MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH
Hakekat manusia bersumber pada dua
hal. Pertama ashal al ba’id [asal yang jauh], yaitu penciptaan pertama dari
tanah yang kemudian Allah menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya sebagian
ruh-Nya.
Kedua: ashal al-qarib [asal yang dekat] yaitu penciptaan manusia itu dari nuthfah. Untuk menjelaskan kedua asal tersebut Allah berfirman yang artinya:
Kedua: ashal al-qarib [asal yang dekat] yaitu penciptaan manusia itu dari nuthfah. Untuk menjelaskan kedua asal tersebut Allah berfirman yang artinya:
“Yang membuat segala sesuatu yang
Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan
bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur.” (as-Sajdah: 7-9)
Manusia Mahkluk Allah yang
Dimuliakan
Islam tidak memposisikan manusia
dalam kehinaan, kerendahan atau tidak berharga seperti binatang, benda mati,
atau makhluk lainnya. Untuk itu Allah berfirman:
“Dan Sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (al-Israa’:
70)
“Apakah kamu tiada melihat
bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang
berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit
jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (al-Hajj: 65)
Allah telah menganugerahkan manusia
dengan kemampuan yang dengannya manusia dapat menguasai semesta yang telah
diperuntukkan Allah bagi manusia. Artinya Allah melarang manusia menghinakan
diri pada semesta ini. Dia telah memberikan keamanan kepada manusia dalam
menghadapi semesta karena manusia diberi kekuasaan untuk menundukkan alam
semesta demi kemaslahatan umat manusia. Itulah dasar pendidikan Rabbani yang
dengannya al-Qur’an menumbuhkan kehormatan dan harga diri dalam diri manusia
sekaligus juga menumbuhkan kesadaran terhadap karunia Allah. Ketika manusia
mengendarai kapal terbang atau mobil, hendaknya ia ingat kepada firman Allah
berikut ini:
“Supaya kamu duduk di atas
punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di
atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha suci Tuhan yang telah menundukkan
semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan
Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan kami”. (az-Zukhruf: 13-14)
Manusia Mahkluk Allah Yang Istimewa
dan Terpilih
Salah satu anugerah yang diberikan
Allah kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dari
kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. Ke dalam naluri manusia, Allah
menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan
sehingga manusia mampu memilih jalan yang mampu mengantarkannya kepada kebaikan
dan kebahagiaan atau jalan yang menjerumuskannya pada kebinasaan. Dengan jelas
Allah menyebutkan bahwa dalam hidupnya, manusia harus berupaya menyucikan,
mengembangkan, dan meninggikan diri agar manusia terangkat dalam keutamaan.
Allah berfirman:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan
Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7-10)
Untuk orang-orang yang memilih jalan
kedurhakaan, Allah meratakan mereka sekaligus kotanya dengan tanah.
Manusia Mahkluk Allah yang Dapat Di
Didik
Allah telah membekali manusia dengan
kemampuan untuk belajar dan mengetahui sebagaimana firman-Nya ini:
“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3 dan 5)
“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3 dan 5)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam
Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para
Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak
ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah:
31-32)
Allah pun telah menganugerahi
manusia berbagai sarana untuk belajar, seperti penglihatan, pendengaran, dan
hati sebagaimana firman Allah:
“… dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (an-Nahl: 78)
“… dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (an-Nahl: 78)
Sehubungan dengan itu, al-Maududi
mengatakan: “Pendengaran merupakan pemeliharaan pengetahuan yang diperoleh dari
orang lain. Penglihatan merupakan pengembangan pengetahuan dengan hasil
observasi dan penelitian yang berkaitan dengannya. Hati merupakan sarana
membersihkan ilmu pengetahuan dari kotoran dan noda sehingga lahirlah ilmu
pengetahuan yang murni. Jika ketiga pengetahuan itu dipadukan, terciptalah ilmu
pengetahuan yang sesuai dengan yang dikaruniakan Allah kepada manusia yang
hanya dengan ilmu pengetahuan itulah manusia mampu mengatasi dan menundukkan
makhluk lain agar tunduk pada kehendaknya.”
Jika manusia tidak memanfaatkan
sarana-sarana pendidikan tersebut, Allah swt. menggolongkan mereka dalam
kehinaan sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut ini:
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk
(isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati,
tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf:
179)
Sarana pendidikan lain yang dimiliki
manusia adalah bahasa, kemampuan untuk mengeluarkan gagasan, dan kemampuan
untuk menulis. Keberadaan sarana pendidikan tersebut ditegaskan dalam firman
Allah berikut:
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan bibir?” (al-Balad: 8-9)
“[Tuhan] Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara.” (ar-Rahmaan: 1-4)
“Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (al-Qalam: 1)
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan bibir?” (al-Balad: 8-9)
“[Tuhan] Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara.” (ar-Rahmaan: 1-4)
“Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (al-Qalam: 1)
Melalui berfikir dan belajar,
diharapkan manusia mampu mempelajari dan memahami syariat-syariat Allah. Lebih
jelasnya lagi, Allah berfirman:
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 129)
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 129)
Lewat inipun manusia diajak untuk
mentafakuri penciptaan langit, bumi, dan dirinya sendiri sebagaimana firman
Allah:
“Dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?”(adz-Dzaariyaat: 21)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan?” (al-Ghaasyiyah: 17)
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat?’ maka apakah kamu tidak memikirkan[nya]?” (al-An’am: 50)
“Dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?”(adz-Dzaariyaat: 21)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan?” (al-Ghaasyiyah: 17)
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat?’ maka apakah kamu tidak memikirkan[nya]?” (al-An’am: 50)
Ayat-ayat di atas telah menegaskan
bahwa Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana
untuk merenung, tafakur, berfikir jernih, serta meneliti alam semesta ini.
Kemudian dengan akal dan hatinya, manusia mengolah alam ini untuk dijadikan
sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Kita didik secara ilmiah melalui
berfikir, observasi, diskusi, hingga penyimpulan sampai akhirnya kita dapat
meraih ilmu pengetahuan dan menghasilkan sesuatu. Jika demikian, sangat terasa
penyia-nyiaan kita terhadap fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati sehingga
yang asalnya umat Islam menjadi pemimpin atas umat lainnya, kini kita harus
menyaksikan kemajuan orang lain.
Tanggung jawab Manusia
Islam bukan hanya memuliakan,
mengunggulkan, dan mengistimewakan manusia atas makhluk lainnya. Sejalan dengan
ini Islam pun memberikan tanggung jawab yang disertai balasan sepadan. Islam
membebani manusia dengan tanggung jawab penerapan syariat Allah dan perwujudan
penghambaan kepada-Nya. Padahal, makhluk-makhluk lain tidak bersedia memikul
tanggung jawab tersebut. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan
untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan
Amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan
dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima
taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 72-73)
Sejalan dengan kebebasan, kehendak,
dan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan, Allah telah menentukan
balasan atau balasan yang setimpal dengan alternatif yang dipilih manusia,
apakah yang dipilihnya itu kebaikan ataukah keburukan? Untuk itu Al-Qur’an
mengatakan:
“Barangsiapa yang mengerjakan
kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat [balasan]nya. Dan barang
siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat
[balasan]nya pula.” (al-Zalzalah: 7-8)
Seluruh tugas manusia dalam hidup
ini, berakumulasi pada tanggung jawabnya untuk beribadah dan mengesakan Allah
sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya ini:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat: 56)
“Dan sesungguhnya, masjid-masjid itu
adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah sesuatupun di dalamnya
disamping [menyembah] Allah.” (al-Jinn: 18)
Komentar
Posting Komentar