MANUSIA MAKHLUK PENELITI
Manusia Makhluk Peneliti
Manusia sebagai makhluk peneliti
merupakan suatu hal yang manusiawi, karena pada dasarnya manusia memiliki
keingintahuan yang sangat kuat sehingga menjadikannya sebagai makhluk yang
selalu ingin mencari tahu.Manusia sudah melakukan penelitian sejak zaman
dahulu. Karenapenelitiansangatlahpentingbagiilmupengetahuandimukabumiini.
Allah menurunkanwahyupertamayaitu
surah al-alaqayat: 1-5.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ
عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)
عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [العلق: 1-5]
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS:Al-‘Alaq | Ayat: 1-5).
Dalam wahyu pertama tersebut Allah
memerintahkan kita sebagai umat muslim untuk senantia menghabiskan waktu untuk membaca.
Perintah Allah ini ketika kita melaksanakannya dengan penuh suka cita maka pasti
banyak sekali manfaat yang akan di rasakan. Sayangnya, perintah Allah ini masih
banyak manusia yang tidak melaksanakannya dengan baik. Sehingga kerugianlah
yang akan di dapat.
dalam ayat itu pula Allah menegaskan
bahwa Allah akan memberikan ilmu kepada manusia jika manusia itu membaca karena
memang itulah janji Allah. Dalam hal ini membaca juga memiliki
maksud yakni diantaranya ilmu yang Allah janjikan. Karena membaca adalah kunci
utama dalam mendapatkan ilmu. Seperti kata mutiara yang sering kita dengar
bahwa buku adalah jendela dunia. Yang sebenarnya dimaksudkan agar kita
rajin-rajinlah membaca agar ilmu kita semakin luas.
Tetapi
Allah juga menegaskan bahwa ilmu yang diturunkan kepada manusia adalah sebagian
kecil dari ilmu yang dimiliki Allah. Ilmu Allah diibaratkan bagaikan ilmu yang
jika ditulis dengan tujuh samudra di bumi ini sebagai tinta, dan
ranting-ranting di seluruh dunia sebagai penanya, maka itu tidaklah cukup untuk
menulis ilmu yang Allah miliki. Sehingga, salah apabila meyakini AlQuran
sebagai isi dari seluruh ilmu Allah. Tetapi AlQuran merupakan isi dari sebagian
kecil ilmu yang Allah turunkan atau Allah karuniakan kepada manusia.
Dalam
tragedi perang Salib, Bangsa Barat mengambil alih perpustakaan
terbesar yang dimiliki kaum muslimin. Buku-buku dalam perpustakaan tersebut
sebagian mereka bakar, dan sebagian yang menurut mereka itu penting mereka
klaim sebagai milik mereka. Mereka juga mengganti beberapa nama penemu-penemu
Islam yang mereka ubah menyerupai nama barat. Nama tersebut seperti AVICENA
yang sebenarnya adalah IBNU SINA, dan juga AVEROUS yang sebenarnya adalah IBNU
RUSYD. Karena kejadian tersebut, para muslimin sempat berfikir apakah Islamisasi
Sains itu diperlukan? Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena Allah menurunkan
ilmu-Nya untuk semua orang, tidak hanya kepada kaum Muslimin, tetapi juga
kepada kaum lain. Allah memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang
untuk memiliki ilmu. Allah mengizinkan itu semua, namun berbedalah antara
mengizinkan dengan meridhoi. Dan ilmu itu didapat tidak hanya sekedar membaca
tulisan saja, tetapi juga membaca situasi, alam, dan lain sebagainya.
Dalam
mencari ilmu inilah manusia zaman sekarang harus membuktikan semuanya secara
empirik sehingga memerlukan sebuah penelitian. Seperti misalnya manfaat sholat
yang sudah pernah diteliti dan dibuktikan dengan manfaat yang didapat seperti
kebugaran dan kesehatan baik jasmani maupun rohani. Dan juga beberapa
penelitian yang sebenarnya dilakukan untuk membuktikan apa yang terdapat atau
disebutkan dalam AlQuran sampai semuanya terbukti baru manusia akan percaya.
Maka dari itulah mengapa manusia disebut sebagai makhluk peneliti.
Komentar
Posting Komentar