MAKHLUK IBADAT

Makhluk Ibadat
Diciptakan jin dan manusia tiada lain hanyalah utk beribadah kepada Allah…Qs.adzdzaariyaat(51):56
Surah:51.Az-Zariyat.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Syaikhul islam berkata,”Makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintah-nya melalui lisan2 para rosul
Beliau berkata lagi,”Ibadah adalah hal yang mencangkup segala perkataan dan perbuatan, baik yang zhahir maupun yang batin yang dicintai dan di ridhoi oleh Allah.”
Imam Al Qurthubi berkata,”Asal makna ibadah adalah merendahkan diri dan tunduk.
Setiap tugas2 keagamaan yang dibebankan atas orang2 mukallaf dinamakan ibadah, karena mereka melakukan hal itu secara konsisten dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah Ta’ala
Sedangkan makna diatas (Adz-Dzaariyat(51):56):bahwasanya Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-NYA
Inilah hikmah diciptakannya semua mahluk-NYA
Masih menurut Imam Al Qurthubi :’yang dimaksud adalah hikmah yang terkait dengan syariat
Al Imad Ibnu Katsir berkata:”Beribadah kepada-NYA adalah taat kepadanya
Dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.
Yang demikian itulah subtansi dari agama Islam
Menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala yang mencangkup kepatuhan, kerendahan, dan ketundukan dengan penuh”demikianlah perkataan beliau
Beliau berkata lagi mengenai penafsiran ayat tersebut
“makna ayat tersebut adalah bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk agar menyembah-NYA semata, Tidak ada sekutu bagi-NYA
Barangsiapa yang taat kepada-NYA, maka Dia akam membalasnya dengan imbalan yang paling sempurna ;dan barangsiapa yang berbuat maksiat kepada-NYA, maka Dia akan mengazabnya dg azab yang paling pedih
Dia Ta’ala juga memberitahukan, bahwasanya Dia tidak memiliki hajat kepada mereka.
Bahkan merekalah orang2 yang amat berhajat kepada-NYA, dalam setiap kondisi mereka, sebab Dia adalah Pencipta dan Pemberi rezeki mereka
Ali bin Abi Thalib RA berkata–berkenaan dg ayat tersebut
(Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia) melainkan agar Aku (Allah) memerintahkan mereka untuk menyembah-KU
dan mengajak mereka untk beribadah kepada-KU
.”Mujahid berkata,”Melainkan agar Aku(Allah) memerintahkan dan melarang mereka .”Penafsiran ini dipilih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam.
Selanjutnya Ibnu Katsir berkata:”diantara ayat yang mendukung penafsiran tersebut adalah firmannya Qs Al Qiyammah 75:36
. Surah:75.Al-Qiyamah. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)
Imam Syafi’i berkata –berkenaan dengan maksud ayat diatas .”Dibiarkan begitu saja tanpa diperintah maupun dilarang.”
Allah ta’ala berfirman dalam banyak tempat didalam Al-quran:Sembahlah Tuhanmu
Qs Al Baqarah (2):21
. Hai manusia, sembahlah Tuhan-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.
Dan Qs Al hajj 22:1
Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
Jadi Allah Ta ala berfirman dalam banyak tempat di dalam Alquran:Qs.Al baqarah 2:21(sembahlah Tuhanmu); Qs al Hajj 22:1 (Bertakwalah kepada Tuhanmu)
Didalam ayat-ayat tersebut, “Allah Ta’ala memerintahkan mereka sesuai dengan tujuan yang karenanya mereka diciptakan dan diutusnya para Rosul.
Makna semacam inilah yang secara Qath’i dimaksudkan oleh ayat tersebut:yaitu sebagimana yang dipahami oleh kebanyakan kaum muslimin dan dengannya mereka berhujjah.
Ibnu Katsir berkata lagi mengenai ayat tersebut, “Ayat ini serupa dengan makna firmannya,
Qs An-Nisa(4):64
“. Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seijin ¬Allah¬. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada ¬Allah¬, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati ¬Allah¬ Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dr ayat an-nisa 4:64 Dimana seorang Rosul terkadang dipatuhi dan terkadang didurhakai
Begitupula , Tidaklah… Dia menciptakan mereka melainkan untuk beribadah kepada-NYA ,namun terkadang mereka beribadah dan terkadang tidak melakukannya
Allah Ta’ala tidak berfirman,”sesungguhnya Dia melakukan perbuatan yang pertama, yaitu menciptakan mereka agar Dia membuat mereka semua melakukan perbuatan yang kedua, yaitu beribadah kepada-NYA “.
Akan tetapi Dia Ta’ala.menyebutkan, bahwa Dia melakukan perbuatan yang pertama agar merekalah yang melakukan . Perbuatan yang kedua ,sehingga dengan demikian merekalah orang yang melakukan perbuatan itu
Maka bila dilakukan seperti itu mareka akan mendapatkan kebahagiaan atas usaha mereka sendiri dan mendapatkan apa yang dicintai dan dirodhoi oleh-NYA
Untuk kepentingan mereka;”Demikian perkataan ibnu Katsir
Makna semacam itu diperkuat oleh beberapa hadits yang mutawatir,
diantaranya hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim
dalam kitab Shahihnya dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu
dari nabi Muhammad shalallahu Alihi wasallam
, beliau bersabda :”Allah Ta’ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan adzabnya,”andaikata…engkau memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya ditambah yang seperti itu lagi..,apakah engkau akan menebus dirimu dg semua itu?”Orang itu menjawab: “YA. “lalu Dia berfirman lagi
.”Sungguh Aku telah menghendaki darimu yang lebih ringan dari itu manakala engkau masih tulang rusuk Adam, yaitu agar engkau tidak menyekutukan -KU
(Kemudian perawi ragu-ragu dan berkata:”Aku mengira selanjutnya Allah Ta’ala berfirman lagi”)
“Dan Aku tidak akan memasukkanmu kedalam neraka, namun engaku enggan untuk itu bahkan sebaliknya hanya memilih utk berbuat syirik
Diriwayatkan oleh muslim, Ahmad dan bukhari
Orang yang berbuat syirik ini telah menyalahi kehendak-NYA
agar dia mentauhidkan-NYA, dan tidak menyekutukan-NYA dengan sesuatu apapun.
Namun dia tetap menyalahi kehendaknya
dan menyekutukan-NYA dengan selain-NYA
Kehendak (iradah) semacam ini dinamakan Iradah Syarri’iyah Diniyyah sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu. Jadi,antara makna Iradah Syari’iyah Diniyyah dan Iradah Kauniyyah Qadariyyah terdapat sisi makna yang umum dan khusus yang mutlak.Keduanya terpadu pada seseorang yang berbuat ikhlas (bertauhid) dan taat.
Namun Iradah Kauniyyah Qadariyyah terdapat pada seorang yang berbuat maksiat. Maka pahamilah hal seperti ini. Niscaya anda akan selamat dari kebodohan yang dilakukan oleh ahlul kalam dan para pengikut mereka
Bab selanjutnya adalah:Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada setiap umat(untuk menyerukan),Beribadahlah kepada Allah(saja) dan jauhilah Thaghut “(Qs An nahl 16:36)

Pengertian Ibadah 
Secara etomologis diambil dari kata ‘abada, ya’budu, ‘abdan, fahuwa ‘aabidun. ‘Abid,berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, hatta dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh keridhaan tuannya dan menghindarkan murkanya.
Manusia adalah hamba Allah “‘Ibaadullaah” jiwa raga haya milik Allah, hidup matinya di tangan Allah, rizki miskin kayanya ketentuan Allah, dan diciptakan hanya untuk  ibadah atau menghamba kepada-Nya:
Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu (QS.al-Dzariyat: 56).
Jenis ‘Ibadah 
Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya:
1. ‘Ibadah Mahdhah,  artinya  penghambaan yang murni hanya merupakan hubung an antara hamba dengan Allah secara langsung. ‘Ibadah bentuk ini  memiliki 4 prinsip:
a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah,baik dari al-Quran maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.
b. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah…(QS. An-Nisaa: 64).
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang dilarang, maka tinggalkanlah…( QS. Al-Hasr: 7).
Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tatacaranya, Nabi bersabda:
صلوا كما رايتمونى اصلى .رواه البخاري   . خذوا عنى مناسككم  .
Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat. Ambillah dari padaku tatacara haji kamu
c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
d. Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi:


Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
1. Wudhu,
2. Tayammum
3. Mandi hadats
4. Adzan
5. Iqamat
6. Shalat
7. Membaca al-Quran
8. I’tikaf
9. Shiyam ( Puasa )
10. Haji
11. Umrah
12. Tajhiz al- Janazah
Rumusan Ibadah Mahdhah adalah
“KA + SS”
(Karena Allah + Sesuai Syari’at)
2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni semata hubungan dengan Allah)  yaitu ibadah yang di samping sebagai hubungan  hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya .  Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:
a. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.
b. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.
c. Bersifat rasional,  ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika.  Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
d. Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.
Rumusan Ibadah Ghairu Mahdhah
“BB + KA”
(Berbuat Baik +  Karena Allah)
3. Hikmah Ibadah Mahdhah
Pokok dari semua ajaran Islam adalah “Tawhiedul ilaah” (KeEsaan Allah) , dan ibadah mahdhah itu salah satu sasarannya adalah untuk mengekpresikan ke Esaan Allah itu, sehingga dalam pelaksanaannya diwujudkan dengan:
a. Tawhiedul wijhah (menyatukan arah pandang). Shalat semuanya harus menghadap ke arah ka’bah, itu bukan menyembah Ka’bah, dia adalah batu tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, tetapi syarat sah shalat menghadap ke sana  untuk menyatukan arah pandang, sebagai perwujudan Allah yang diibadati itu Esa. Di mana pun orang shalat ke arah sanalah kiblatnya  (QS. 2: 144).
b. Tawhiedul harakah (Kesatuan gerak). Semua orang yang shalat gerakan pokoknya sama, terdiri dari berdiri, membungkuk (ruku’), sujud dan duduk. Demikian halnya ketika thawaf dan sa’i, arah putaran dan gerakannya sama, sebagai perwujudan Allah yang diibadati hanya satu.
c. Tawhiedul lughah (Kesatuan ungkapan atau bahasa). Karena Allah yang disembah (diibadati) itu satu maka bahasa yang dipakai mengungkapkan ibadah kepadanya hanya satu yakni bacaan shalat, tak peduli bahasa ibunya apa, apakah dia mengerti atau tidak, harus satu bahasa, demikian juga membaca al-Quran, dari sejak turunnya hingga kini al-Quran adalah bahasa al-Quran yang membaca terjemahannya bukan membaca al-Quran.


Komentar

Postingan Populer