Kebenaran dan Kebetulan

KEBENARAN

Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek. bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yg sesuai dengan (atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri.
Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan objek, yakni pengetahuan yang obyektif. Karena suatu objek memiliki banyak aspek, maka sulit untuk mencakup keseluruhan aspek (mencoba meliputi seluruh kebenaran dari objek tersebut) Kebenaran menurut Islam.


Oleh : Abdurrahman Misno
Makna Kebenaran (Al-Haq)

Secara etimologi Lafadz "hak" memiliki beberapa arti : Pertama, Ketetapan dan kepastian, sebagaimana disebutkan dalam QS Yaasin ayat 7 :
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

Kedua, Menetapkan, mnjelaskan  dan Kebenaran (Islam) sebagaimana dalam QS Al-Anfal ayat 8 :
لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
…agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.

Ketiga, Kewajiban, yaitu terdapat dalam QS  Al-Baqarah ayat 241 :
وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang ma`ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.

Kempat, Kebenaran yaitu lawan dari batil, seperti dalam QS Yunus ayat 35 :
قُلْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?" Katakanlah: "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran". Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan ?

Kelima, Bagian tertentu, seperti disebutkan dalam QS Al-Ma'arij ayat 24-25 :
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ(24)لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ(25)
…dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).
Dalam Lisan Al-Arab disebutkan bahwa makna "al-haq" bermakna ketetapan, kewajiban, yakin, yang patut dan yang benar. Sementara dalam Mu'jam Al-Wasithdisebutkan bahwa makna "al-haq" bermakna sesuatu yang benar dan tetap. Wahbah Al-Zuhaili mengatakan bahwa makna dari "al-haq"  secara bahasa berkisar antara ketetapan, kewajiban dan bagian tertentu. Sementara Al-Jarjany mendefiniskan hak dengan الثابت الذي لا يسوغ إنكاره  "Kepastian yang tidak diragukan lagi".

Kesimpulannya adalah bahwa lafadz "hak" secara bahasa mempunyai beberapa makna, yaitu : kepastian, kebenaran (lawan dari batil), bagian tertentu dan ketetapan atas sesuatu. Adapun secara istilah "hak" adalah "Keistimewaan yang ditetapkan oleh syariat berupa kekuasaan atas sesuatu", dalam pengertian yang lain yaitu "Beban syariat yang dikenakan kepada seseorang". Ada dua pengertian hak yang disebutkan oleh para ulama, yaitu hak yang berarti kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang dan hak yang berarti al-hukmu yaitu Khitab (hukum-hukum) Allah yang berkaitan dengan amalan-amalan hamba yang berupa tuntutan, pilihan dan wadh'i.

Standar Kebenaran
Sebagaimana makna Al-Haq yaitu kebenaran, maka harus ada rumusan yang pasti tentang apa itu kebenaran dan apa ukuran. Mari kita menelaah salah satu firmanNya :
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. QS Al-Baqarah : 147

Dan katakanlah: " Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. QS Al-Kahfi : 29

Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. QS Yunus : 94

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. QS Al-Haaqah : 51

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS Al-Hajj : 62.

Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (Al-Quran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan. QS Al-An'am : 5.

Sesungguhnya Kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. QS Az-Zukhruf : 78

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib." QS. Saba' : 48

Tetapi mengapa mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia Muhammad mengada-adakannya." Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. QS As-Sajdah : 3.

Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. QS Al-Mukminun : 71



KEBETULAN

Arti Kebetulan adalah tidak dengan sengaja terjadi (bertemu, tertangkap, dan sebagainya)

Apa pandangan Islam mengenai kebetulan?
Di dalam akidah Islam tidak ada yang dikatakan sebagai kebetulan kerana semuanya merupakan takdir daripada Allah SWT. Setiap yang berlaku hatta sekecil mana sekalipun tidak terlepas daripada khudrat dan ilmu Allah SWT. Tetapi kita boleh katakan kebetulan yang dimaksudkan oleh orang kita ialah berbetulan dengan takdir. Maka jika dimaksudkan dengan kebetulan ialah yang berbetulan dengan takdir maka tidaklah menjadi salah untuk kita mengatakan secara kebetulan. Dengan perkataan yang lain ialah sesuatu yang di luar kemampuan kita berlaku dan berbetulan dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT.
Namun jika dii’tiqadkan yang kebetulan itu terjadi dengan sendiri bukan daripada khudrat Allah SWT maka kalam sebegini boleh mengeluarkan kita daripada Islam dan dikira sebagai murtad dan wajib bertaubat dan jika tidak mahu bertaubat maka dipancung oleh Imam atau ketua negara sebuah negara Islam.

Ulamak mutakallim membahagikan perbuatan kita kepada dua. Pertama disebut sebagai ikhtiari dan kedua disebut sebagai idthirori. Ikhtiari ialah yang kita lakukan dengan pilihan kita dan usaha kita seperti kita memilih untuk memakan nasik atau roti. Maka ini di dalam kawalan kita. Adapun idthirori ialah sesuatu yang di luar bidang kuasa kita yang berlaku dengan ketentuan Allah SWT seperti kelipan mata dan sebgainya.

Di dalam permasalahan ini wujudnya beberapa golongan di dalam Islam seperti golongan Jabariyyah dan Qadariyyah di mana jabariyyah mengatakan perbuatan kita secara terpaksa dengan menafikan pilihan kita. Seperti bulu yang diterbangkan oleh angin. Maka yang memaksa kita ialah kudrat Allah SWT. Qadariyyah pula mengatakan Allah Ta’ala tidak ada sangkut paut dengan apa yang kita lakukan. Maksudnya Allah Ta’ala memberikan kita khudrat secara total dengan menafikan khudrat Allah Ta’ala di dalam perbuatan yang kita lakukan.

Muktazilah pula berpandangan Allah hanya melakukan perkara yang baik dan terlebih baik adapun perkara yang buruk tidak dilakukan oleh Allah Ta’ala. Tujuan mereka untuk mentanzihkan Allah Ta’ala daripada perkara yang buruk tetapi tanpa mereka sedari mereka membataskan kuasa Allah dan seolah-olah ada kuasa lain yang membuat perkara yang buruk. Jika bukan Allah yang melakukan perkara yang buruk maka siapa lagi? Sebab itu di dalam rukun iman kita wajib beriman dengan qada’ dan qadar buruk dan baik ditentukan oleh Allah SWT. Tinggal lagi usaha dan ikhtiar kita dalam memilih yang mana disuruh oleh Allah dan yang dilarang oleh Allah SWT. Ulamak ahli sunnah menghukumkan haram jika kita mengatakan babi Allah atau apa-apa yang buruk dan keji sebagai beradab dengan Allah SWT walaupun pada hakikatnya semuanya dijadikan oleh Allah SWT.

Ketiga-tiga aliran ini merupakan aliran yang sesat dan menyesatkan yang melakukan bidaah di dalam urusan agama. Adapun akidah ahli sunnah kita mengi’tiqadkan bahawasanya Allah Ta’ala memberikan ikhtiar dan kasbun iaitu pilihan dan usaha kepada kita tanpa menafikan campurtangan khudrat Allah tetapi kita diberi pilihan samada untuk melakukan ketaatan atau maksiat. Dengan sebab inilah kita diazab dengan maksiat yang kita lakukan dan kita diberi pahala dengan ketaatan yang kita laksanakan.

Komentar

Postingan Populer